Ramadhan yang Luar Biasa

Malam merambat kelam. Gema takbir mengalun dari kejauhan. Tak biasa memang, karena setiap malam lebaran, biasanya hampir seluruh masjid ...


Malam merambat kelam. Gema takbir mengalun dari kejauhan. Tak biasa memang, karena setiap malam lebaran, biasanya hampir seluruh masjid dan musholla ramai melantunkan takbir bersahut-sahutan. Bahkan, biasanya sampai pagi, seolah menjadi malam perayaan kemenangan.

Memang tak mudah mengubah tradisi yang sudah dilalui sejak masa kanak-kanak hingga dewasa kini. Biasanya, saya berlebaran tak pernah di Jakarta. Mudik ke Kota Kelahiran, Cianjur, selalu membahagiakan. Jumpa sanak saudara, sekalian bernostalgia. Satu lagi, kampung halaman tempat terbaik untuk mencecap energi paling hakiki yakni doa dan restu langsung dari orang tua yang cintanya tak pernah bertepi.

Ramadhan bulan suci yang selalu dinanti. Momentum yang tepat untuk berefleksi. Tentu, Ramadhan kali ini berbeda, karena dunia lagi dilanda pandemi. Sebagian besar muslim di dunia, menjalankan ibadah puasa dengan segala ritualnya secara berbeda. Keramaian masjid-mesjid nyaris tak nampak. Forum-forum pengajian sepi, tarawih pun banyak dilakukan di rumah-rumah. Semua situasi ini karena menghormati sekaligus berpartisipasi dalam penanganan Covid-19. Aneh? Ya pasti awalnya memang tarasa demikian. Hanya saja, semua ini tentu demi kebaikan umat manusia. Jarak fisik menjadi salah satu kunci mengatasi meluasnya paparan pandemi. Singkatnya, inilah Ramadhan yang tak biasa.

Hanya saja, bagi saya pribadi inilah lebaran paling luar biasa selama saya hidup! Loh ko bisa? Paling tidak saya punya lima alasan utama untuk sampai pada simpulan Ramadhan kali ini adalah momentum terbaik selama saya hidup. 

Buka puasa bersama keluarga
Pertama, tak pernah ada salam sejarah Ramadhan saya, dimana saya bisa berkumpul lengkap dengan anak-anak dan istri satu bulan penuh. Berkat pandemi, anak-anak sekolah secara daring. Pun demikian dengan saya, hampir seluruh aktivitas pekerjaan dilakukan secara daring dari rumah. Rumah menjadi begitu ramai, hangat, penuh keseruan. Realita yang rasanya sulit diulang, dimana bisa berkumpul bersama dan menyelanggarakan ritual Ramadhan mulai dari sahur, buka puasa, shalat jamaah, mengaji, bercanda tanpa terpotong satu hari pun. Ramadhan yang sudah-sudah selalu aja ada hari-hari dimana kami tak bisa bersama. Bisa karena ada pekerjaan di luar kota, atau menghadiri buka puasa bersama teman-teman satu SD, SMP, SMA hingga zaman kuliah. Bahkan buka puasa juga kerap diselenggarakan kolega dan lembaga-lembaga yang selama ini menjadi mitra. Praktis paling maksimal buka puasa bersama keluarga biasanya tak lebih dari separuh bulan Ramadhan.

Kedua, Ramadhan kali ini saya melihat begitu banyak kebaikan yang mengemuka. Pandemi mengajarkan kita untuk saling berbagi. Setiap hari, selalu saya melihat, mendengar, meyaksikan, merasakan begitu banyak orang baik bahu-membahu saling menguatkan. Tak lagi mengenal sekat-sekat agama, etnis, golongan. Orang baik yang mau berderma kepada sesama. Bagaimanapun pandemi bukan lagi semata masalah kesehatan, melainkan ujian bagi kebersamaan kita umat manusia.

Olahraga rutin setiap menjelang berbuka puasa 
Ketiga, Ramadhan kali sungguh dahsyat! Tak pernah saya memiliki waktu berolahraga begitu istimewa. Ramadhan tahu lalu dan tahun-tahun sebelumnya paling banyak saya berolahraga hanya tiga kali dalam sepekan. Nyaris susah mencari waktu untuk berolahraga secara rutin. Bulan ini sungguh luar biasa!! Sejak Ramadhan hari pertama hingga hari terakhir, saya rutin berolahraga di sore hari jelang berbuka. Saya bisa berlari minimal 30 menit setiap hari, cross training dengan bersepeda, diselingi workout di rumah. Ini benar-benar serasa menjadi Ramadhan paling paripurna. Terlabih pekerjaan tetap bisa dilakukan dengan baik melalui cara daring.


Keempat, Ramadhan kali ini juga benar-benar memanjakan saya. Waktu untuk membaca buku, koran, jurnal, dan tentu saja Qur’an sangatlah leluasa. Yang paling membahagiakan lagi, banyak waktu untuk menulis kolom yang bisa saya publikasikan di sejumlah media massa nasional.

Menjadi Narasumber dalam Webinr yang diselenggarakan oleh Magister Ilmu Komunikasi (MIKOM) FISIP UMJ, Kamis 14 Mei 2020 Membahas tentang "Narasi Komunikasi Publik Pemerintah dalam Penanganan Covid-19"

Kelima, Ramadhan kali ini memberi pengalaman begitu berharga tentang interaksi komunikasi yang termediasi. Saya memang telah lama mengadaptasi media online seperti punya website pribadi, sejumlah akun seperti Facebook, Instagram, Twitter dan lain-lain. Tetapi, penggunaan aplikasi seperti zoom, skype, google meet dan lain-lain yang biasanya digunakan sesekali, kini harus saya pakai hampir setiap hari. Saya memang lebih happy dengan komunikasi langsung (face-to-face communication). Akan tetapi, pandemi mengajarkan setiap kita juga harus siap dengan infrastuktur dan ekosistem komunikasi termediasi. Berkomunikasi dengan banyak orang melalui sejumlah aplikasi mengajarkan bahwa komunikasi di online memang benar-benar borderless (tidak terbatasi). Saya tak pernah mengalami sebelumnya, begitu banyak seminar berskala nasional bahkan internasional sebanyak yang dialami di Ramadhan kali ini. Setiap hari, ada saja webinar, IG LIVE, Talkshow di televisi  dan lain-lain yang membuat ilmu pengetahuan begitu deras dirasakan banyak orang. Forum-forum ilmiah yang membentuk ruang publik baru tempat menyemai kesadaran kita sebagai warganegara. Anda juga pasti marasakan bukan?


Ya begitulah teman! Ramadhan yang semula dianggap di tengah keterbatasan, tetapi justeru menjadi daya lenting yang luar biasa. Akankah kita mengalami hal sama di tahun depan? Saya sih tak yakin. Dunia kini sedang berbenah. Memperbaiki diri, mengatasi pandemi. Bukan hal mudah memang, tetapi hidup bukannya memang perjalanan yang kompleks. Tak selalu mudah, karena kerap memunculkan banyak kejutan, ketidaknyamanan dan ketidakpastian.
  
Penting bagi kita memahami ucapan seorang Futurist Gerd Leonhard dalam presentasinya di NetApp Insight, Desember 2018 di Barcelona. Dia mengatakan future driven by data and defined by humanity. Artinya, kita memang harus selalu menandai setiap penggal sejarah yang kini dikendalikan oleh data ini dengan tafsir yang berlandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan. Ramadhan 1441 H sudah berlalu, akankah kita bertemua lagi di tahun depan? Wallahu a’lam. 

Yang jelas ada baiknya kita mengingat firman Allah SWT: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr ayat 1-3). 

Semoga bisa mencicipi Ramadhan tahun depan. Amin YRA.





Related

Opinion 8197401229286403465

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Comments

Connect Us

Contact Us

Name

Email *

Message *

item